UNIVERSITAS Indonesia pada 1987 adalah sebuah tempat antah-berantah, jauh di luar Jakarta, yang harus ditempuh dengan menembus kemacetan Pasar Minggu dan kesemrawutan angkutan kota di LA—istilah keren untuk Lenteng Agung. Dan tiba terlambat, bagi seorang dosen, bukanlah dosa besar.

Saya tidak tahu bapak yang rambutnya hampir semua putih itu datang dari mana, tapi beliau meminta maaf dengan tulus. Satu hal yang paling berkesan adalah gerak tubuhnya dan kata yang dipilihnya. Dia berdiri di depan, menyentuhkan tangan ke dada dan mengucapkan ”kami” untuk menggantikan ”saya”. Selanjutnya, Han Awal memang tidak pernah menggunakan ”saya” di depan kelas untuk membahasakan diri. Beliau lebih memilih ”kami”—sebuah kesopanan lama yang menganggap ”aku” dan ”saya” adalah sebuah penonjolan diri.

Karena itu pulalah, dengan bercanda, teman-teman seangkatan saya menyebut putra beliau, Yori Antar Awal, yang kebetulan adalah senior kami, dengan ”anak kami”. Mengingat Han Awal adalah menggali memori tentang hal-hal penting yang saya pelajari pada tahun-tahun awal kebutaan saya terhadap arsitektur. Bahwa unsur-unsur pokok pembentuk ruang adalah titik, garis, dan bidang. Titik adalah penentu posisi di dalam ruang, dan garis adalah titik yang diperpanjang.

Bahwa bidang adalah medium 2D dan bisa dikembangkan menjadi 3D ke segala sumbu. Bahwa hunian adalah teritori awal manusia. Karena itu, dalam perencanaan dan perancangannya, arsitek harus memperhatikan prinsip kekokohan dan kenyamanan. Arsitektur, selain sebagai naungan, adalah representasi ekspresi yang terus-menerus dari peradaban manusia, sehingga perkembangannya dari zaman ke zaman adalah repositori sejarah peradaban yang luar biasa.

Han Awal menjabarkan sejarah arsitektur dengan sangat menarik, melalui bahasa utama yang digunakannya: gambar. Menggunakan slide projector sederhana yang setiap kali berganti gambar berbunyi krrrk… creek… krrrk… creek…., kami disihir dengan foto bangunan dari tempat-tempat yang jauh. Dari Katedral Notre-Dame, Notre Dame du Haut, Pantheon, hingga bangunan dari mazhab Bauhaus dan era Modern, seperti Seagram Building dan Villa Savoy.

Han Awal tidak cuma meluaskan spektrum pengetahuan dasar arsitektur kami. Ia juga mengajak kita menggali lebih daTEMPO/MARIFKA WAHYU HIDAYA lam tentang khazanah arsitektur Nusantara. Di ruang kelas setengah gelap itu, ia menunjukkan gambar-gambar berbagai bentuk atap, dan meyakinkan bahwa di iklim tropis ini atap adalah yang utama.

Dinding datang kemudian sebagai upaya untuk menahan tampias, serangga, dan terutama: mendapatkan privasi. Masih dengan slide yang sederhana, ia menunjukkan transformasi para arsitek Belanda dalam upaya mereka mengawinkan ilmu membangun Eropa dengan kondisi tropis yang panas dan lembap, sampai pada akhirnya muncul gaya bangunan seperti Aula Barat dan Timur Institut Teknologi Bandung, Gedung Sate, Pasar Johar, Pasar Gede, juga bangunan-bangunan Art Deco pada zaman itu. Satu hal yang sangat diyakini beliau adalah ”breezing wall”. Han Awal percaya, ini adalah jawaban paling jitu untuk daerah

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *