tropis. Dan itu sudah ada di bangunan-bangunan tradisional di Indonesia. Tapi kuliah-kuliah Han Awal tidak melulu diisi dengan halhal ”berat” seperti di atas. Ia menyelipkan materi-materi lucu dan menarik yang, meskipun kurang relevan dengan bahasan, menyenangkan untuk diikuti. Misalnya ketika ia membahas asal mula beberapa kata dalam bahasa Indonesia, yang menurut beliau diambil dari bahasa lain. Seperti gudang dari go down.

Brengsek dari brain sick . Atau kuliah tentang ilusi penglihatan, yang seperti tes psikologi. Garis mana yang lebih panjang dan mana yang lebih pendek dalam satu bidang yang tidak rektangular. Juga gambar pusaran yang beliau minta kita telusuri dengan jari, tapi ternyata jari kita tetap berputar dalam lingkaran, dan tidak menuju ke pusat. Puncaknya adalah Maurits Cornelis Escher, yang memang sering disebut sebagai ilusionis 2D.

Pak Han sangat mengidolakan orang satu ini. Di dalam kelas, Han Awal adalah dosen yang telaten mengajari kita hal-hal yang mendasar. Seperti cara memegang pensil, cara menarik garis, cara membuat arsiran beton dan rumput. Meskipun tak semua mahasiswa berbakat, dia selalu bilang ”luar biasa” atau ”simpatik”. Tentunya ini membesarkan semangat kami yang sering kali kecewa terhadap hasil kerja sendiri.

Jika hari ini kami menjadi arsitek yang bisa mendesain bukan cuma rumah, tapi berbagai tipologi bangunan, tentu kami berutang banyak kepada beliau. Mengingat Han Awal hari ini adalah mengingat satu figur yang ”jauh di sana”: seorang dosen yang mencelikkan mata saya sebagai mahasiswa baru terhadap dasar-dasar perencanaan dan perancangan arsitektur, dan teladan yang dengan lakunya memberi suluh pada profesi arsitektur di Indonesia bagaimana bergulat dengan segala kesulitan, godaan, dan tanggung jawabnya, dengan tetap berpegang pada etika.

Tiga puluh tahun telah lewat. Hampir tidak ada kesempatan yang membuat saya bisa atau harus berinteraksi intens dengan Pak Han Awal. Tapi pada tiap kali pertemuan dan persinggungan, entah itu dalam diskusi atau seminar entah sekadar berpapasan, saya selalu tersentuh pada kerendahan hati beliau dan integritasnya pada apa pun yang dilakukannya.

Belakangan, di usianya yang sudah lanjut, Pak Han adalah figur yang sangat aktif dalam melakukan dan mengkonsultasikan kegiatan konservasi bangunan-bangunan tua di Indonesia. Dan dia melakukannya seperti tanpa lelah.

Meski saya cukup akrab dengan putranya—saya suka iseng bilang, ”Yor, bokap lo keren banget! Lo kapan?”—rasa hormat saya pada Han Awal selalu berhasil menahan langkah saya untuk berhenti dan cukup mengagumi sosok itu dari jauh. Pada 14 Mei 2016, Han Awal berpulang. Tapi saya yakin beliau tak pernah pergi. Di benak para mahasiswa yang pernah bersinggungan dengannya, ada kenangan, pelajaran, dan kesan yang mendalam pada beliau. Dia tinggal pada kita dengan cara yang partikular.

Saya pikir teman-teman seangkatan saya akan setuju jika kami menjuluki beliau ”mantan (dosen) terindah”. Buat kami, Han Awal akan tetap jadi Guru Kami.

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *