Fenomena ”Telolet” Sejatinya Sudah Ada Sejak 20 Tahun Lalu Bagian 2

Sementara itu, orang Spanyol menulis tertawa dengan ”jajajaja”, orang Brasil ”huehuehue”, orang Bulgaria ”xaxaxa”. Perbedaan-perbedaan onomatope ini, sekali lagi, dibuat dan muncul jauh sebelum Internet ditemukan dan jadi alat komunikasi antarmanusia kini. Maka ”telolet” tak punya perbedaan di mana pun. Penulisan bunyi trompet ini sama dengan pengucapannya yang merujuk pada bunyinya.

Orang Indonesia dari Sukaraja atau Mulyajaya, bangsa Amerika dari Arizona ataupun Iowa, atau orang Rusia punya telinga dengan daya tangkap tonal yang sama dengan bunyi trompet bus ini. Mereka tak menciptakan onomatope sendiri dengan, misalnya, ”dorodot-dorodot”. Internet memudahkan penyebaran mimikri, tiru-tiruan yang segar dan lucu. Maka ada yang meramalkan dunia kelak kian seragam karena budaya dan bahasa tersatukan mengikuti bahasa yang dipakai secara populer.

Agaknya fenomena ”telolet” mulai menunjukkan kebenaran ramalan itu: dunia kian seragam dan bahasa tak lagi arbitrer dari benda yang diterangkannya. Fenomena ”telolet” sejatinya sudah ada sejak 20 tahun lalu, ketika ekonomi yang tumbuh mendorong pembangunan infrastruktur sehingga pemilik modal mendirikan perusahaan otobus yang mengakibatkan urbanisasi meningkat.

Anakanak pantai utara Jawa akrab dengan bunyi-bunyian ini. Untuk menarik minat penumpang, para sopir bus—terutama bus-bus dari timur Jawa Barat—memodifkasi klakson dengan bunyi trompet yang besar. Penumpang senang dan para sopir merasa gagah bisa memoles bus dengan aneka rupa gambar hingga suara.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *