Fenomena ”Telolet” Sejatinya Sudah Ada Sejak 20 Tahun Lalu

Telolet menyatukan dunia. Bunyi trompet bus ini begitu terkenal dalam beberapa pekan terakhir ka rena anak-anak merekamnya lalu mengunggahnya ke situs video YouTube. Dari ”pengoplos lagu” (DJ) – terkenal hingga klub sepak bola Inggris, Tottenham Hotspur, menulis ”om, telolet, om” di akun media sosial mereka. Telolet menyatukan dunia karena Internet begitu merajalela.

Di zaman ini orang hanya menyalin-tempel apa yang sedang populer di dunia maya. ”Telolet” pun menjadi onomatope (penulisan kata berdasarkan bunyinya) di seluruh dunia, tak hanya di Indonesia. Sebelum ada Internet, jangankan di dunia, di Indonesia saja kita berbeda menamai kokok ayam. Di Bandung, orang Sunda menyebut ”kongkorongok”, sementara orang Jawa ”kukuruyuk” dan orang Prancis ”cocorico”.

Orang Sunda bahkan punya sembilan jenis onomatope untuk kata ”jatuh”: tikusruk, tisoledat, dst. Sementara ayam adalah onomatope untuk suara, ”tikusruk” dan lain-lain itu onomatope berdasarkan tindakan. Orang Jepang menyebutnya gitaigo, untuk membedakan onomatope giongo.

Barangkali karena sebelum zaman informasi tersebar begitu mudah, orang-orang lokal mencari dan membuat onomatope sendiri berdasarkan bahasa dan budaya mereka, yang mengakibatkan suara ayam yang sama dinamai berbeda. Kita mengenal banyak jenis ketawa yang dituliskan. Orang Indonesia menuliskannya dengan ”hahaha”, belakangan menjadi ”wakakaka”, atau ”hehehe” untuk tertawa yang tak terlalu ”ngakak”.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *