Mengatasi Cybermobbing ala FIN888 – Mesin pencari harus menghapus link yang tak diinginkan saat ada permintaan, demi melindungi para korban dari cybermobbing. Namun para ahli mengatakan tak sepenuhnya demikian. Internet senantiasa merekam segalanya. Data-data dan informasi mengenai seseorang dapat diungkap setiap saat. Dalam hal ini Google adalah ahlinya. Bagi sebagian kalangan pujian ini memang menjadi kutukan. Ketika informasi digunakan sebagai senjata untuk menyerang seseorang, dampaknya cukup besar, bahkan hingga perlu penanganan psikologis.

Bagi para korban cybermobbing—tindakan melakukan cyberbullying secara bersama-sama—, data-data yang tersimpan abadi menjadi momok. Kepala Institute for Cyberpsychology and Media Ethics Köln, Dr. Catarina Katzer mengetahui benar bagaimana dampak dramatis dari cybermobbing. Kasus seorang remaja putri di Jerman, sebut saja Sarah, menjadi dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Bermula dari perkenalan dengan seorang remaja pria melalui Facebook.

Lama-kelamaan hubungan keduanya semakin akrab. Percakapan antara keduanya pun semakin intim dan Sarah semakin menyukai teman Facebook tersebut. Mereka mulai saling mengutarakan keinginan mereka untuk hal yang lebih intim. Hubungan virtual mereka berlangsung sekitar dua bulan. Suatu ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Ternyata, orang yang diharapkan Sarah bukan seorang pria, melainkan anak perempuan lain dari kelasnya.

Temannya tersebut ingin Sarah mengungkapkan keinginan paling intim mereka kepada teman-teman kelasnya melalui Facebook agar dapat diketahui oleh seluruh sekolahnya. Teror pun dimulai sejak itu. Sarah tak lagi mau pergi ke sekolah. Parahnya, ia mulai mengkonsumsi tablet. Akhirnya, ia mendapat perawatan psikologis untuk menghindari niatnya untuk bunuh diri. “Dampak dramatis dari cybermobbing sering kali lebih besar dari alasan untuk itu. Umumnya, pelaku hanya bermotifkan untuk mencari kesenangan,” jelas Katzer.

Demikian juga dalam kasus Sarah tersebut. Pelecehan di tempat kerja Cybermobbing tak hanya terjadi di kalangan remaja. Perbedaan mendasar antara pelecehan dalam bentuk konvensional dan melalui Internet terletak pada jumlah publik yang mengamatinya. Kalau sebelumnya orang cukup pindah pekerjaan untuk menghindari pelecehan. Saat ini, hal tersebut tak begitu mudah. Sebagai contoh, ketika seseorang menjadi korban pelecehan dan kemudian gambarnya dipublikasikan melalui Internet, hal tersebut tak hanya diketahui sebatas lingkaran rekan kerja saja, tapi juga dapat diakses oleh bos di kantor yang baru akan dilamar.

Sumber : https://net89.net/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *