Skotel Makaroni Ikan Untuk 6 buah ala Catering Jakarta

Skotel Makaroni Ikan Untuk 6 buah ala Catering Jakarta

Bahan: 100 gr ikan tuna, potong kotak 100 gr makaroni kecil, rebus matang 3 butir telur 1/2 bh paprika hijau, potong kotak kecil 1/2 bh bawang bombay, cincang halus 1 sdt garam 1/8 sdt merica bubuk 1/2 sdt pala bubuk 1 sdt gula pasir 300 ml susu cair 30 gr keju, parut, untuk taburan 1 sdm mentega, untuk menumis

Cara Membuat: 1. Tumis paprika hijau dan bawang bombay hingga harum dan angkat. Tambahkan ikan. Aduk rata. Angkat,. 2. Kocok lepas telur, pala bubuk, merica bubuk, gula pasir, dan garam. Aduk rata. Tuang susu cair sedikit-sedikit. Aduk rata. Tambahkan makaroni dan tumisan. Aduk rata. 3. Tuang ke pinggan yang tahan panas kecil dan sudah diolesi margarin. Letakkan pinggan tahan panas di dalam loyang yang berisi air. 4. Oven dengan api bawah pada suhu 180 derajat Celsius, sampai setengah matang. 5. Taburi keju parut. Oven lagi selama 10 menit menggunakan suhu 180 derajat Celsius hingga matang dan keju kecoklatan.

Ikan Dori Saus Keju Untuk 5 porsi

Bahan: 2 sdm mentega tawar, lelehkan 500 gr ikan dori fllet 1/2 bh jeruk lemon, ambil airnya 1/4 sdt garam 1/8 sdt merica bubuk

Bahan Saus: 1 1/2 sdm tepung terigu 200 ml susu cair 100 gr keju cheddar, parut 2 lbr keju lembaran warna kuning 1/4 sdt garam 50 ml susu cair 1 sdm margarin

Bahan Pelengkap: 150 gr kentang goreng 100 gr mix salad 5 sdm italian vinegrete dressing

Cara Membuat: 1. Lumuri ikan dengan campuran air jeruk lemon, garam, merica bubuk, dan mentega tawar. Biarkan 30 menit. 2. Saus, panaskan margarin. Masukkan tepung terigu. Aduk sampai berbutir. Tuang susu cair sedikit-sedikit sambil diaduk sampai licin. 3. Masukkan keju parut, keju lembaran, dan garam. Aduk sampai keju larut. Tambahkan susu sambil diaduk rata. 4. Ambil ikan. Siramkan saus. 5. Oven dengan api bawah pada suhu 190 derajat Celsius, 20 menit hingga matang dan kecokelatan. Sajikan bersama bahan pelengkap.

Ikan Goreng Keriting Untuk 4 porsi ala Catering Pernikahan Jakarta

Ikan Goreng Keriting Untuk 4 porsi ala Catering Pernikahan Jakarta

Bahan: 400 gr ikan dori, potong sebesar jari 1/2 sdt air jeruk nipis 3/4 sdt garam 1/8 sdt merica bubuk 500 ml minyak, untuk menggoreng

Bahan Pencelup: 120 gr tepung terigu protein sedang 1/8 sdt meruca bubuk 1 sdt garam 1 sdt cabai bubuk 250 ml air es

Bahan Pelapis (Aduk Rata): 150 gr tepung terigu protein sedang 1/2 sdt baking powder 1 sdt garam

Cara Membuat: 1. Lumuri ikan dengan merica bubuk, air jeruk nipis, dan garam. Diamkan 30 menit dalam lemari es. 2. Pencelup, aduk rata cabai bubuk, tepung terigu, merica bubuk, air es, dan garam. 3. Celupkan ikan ke dalam pencelup. Gulingkan di bahan pelapis. Ulangi sekali lagi. 4. Goreng memakai minyak yang telah dipanaskan dengan api yang sedang hingga matang dan kering.

Ikan Goreng Popcorn Untuk 4 porsi

Bahan: 400 gr ikan nila fllet, potong kotak 1 cm 1 sdt kecap ikan 1/2 sdt garam 1/2 sdt kecap inggris 350 ml air es, untuk pencelup 500 ml minyak, untuk menggoreng

Bahan Pelapis: 200 gr tepung terigu protein sedang 1 sdm tepung sagu 1 sdt baking powder 1 sdm paprika bubuk 1 sdt garam

Cara Membuat: 1. Rendam ikan dengan kecap asin, garam, kecap inggris,diamkan 10 menit. 2. Pelapis, campur tepung terigu, tepung bumbu, tepung sagu, paprika bubuk, garam, dan baking powder. Aduk rata. 3. Gulingkan ikan ke bahan pelapis. Celup ke dalam air es. Lumuri lagi ke bahan pelapis. Angkat-angkat. 4. Goreng menggunakan minyak yang telah dipanaskan di atas api sedang hingga kuning kecoklatan. Angkat.

Ikan Goreng Cornflake Untuk 14 porsi

Bahan: 1 ekor ikan gurami, fllet, potong-potong 2 siung bawang putih, haluskan 1/2 sdt kecap ikan 1 sdt garam

Bahan Pencelup (Aduk Rata): 50 gr tepung terigu 200 ml air es 1/8 sdt baking powder 1/2 sdt garam

Bahan Pelapis: 200 gr corn?ake, remahkan

Cara Membuat: 1. Lumuri ikan dengan campuran bawang putih, kecap ikan, dan garam. Diamkan 15 menit di dalam lemari es. 2. Celupkan ke dalam bahan pencelup. Gulingkan di atas bahan pelapis. Goreng menggunakan minyak yang telah dipanaskan di atas api besar hingga matang.

Han Awal Yang Dikenal Sebagai Guru Legendaris

tropis. Dan itu sudah ada di bangunan-bangunan tradisional di Indonesia. Tapi kuliah-kuliah Han Awal tidak melulu diisi dengan halhal ”berat” seperti di atas. Ia menyelipkan materi-materi lucu dan menarik yang, meskipun kurang relevan dengan bahasan, menyenangkan untuk diikuti. Misalnya ketika ia membahas asal mula beberapa kata dalam bahasa Indonesia, yang menurut beliau diambil dari bahasa lain. Seperti gudang dari go down.

Brengsek dari brain sick . Atau kuliah tentang ilusi penglihatan, yang seperti tes psikologi. Garis mana yang lebih panjang dan mana yang lebih pendek dalam satu bidang yang tidak rektangular. Juga gambar pusaran yang beliau minta kita telusuri dengan jari, tapi ternyata jari kita tetap berputar dalam lingkaran, dan tidak menuju ke pusat. Puncaknya adalah Maurits Cornelis Escher, yang memang sering disebut sebagai ilusionis 2D.

Pak Han sangat mengidolakan orang satu ini. Di dalam kelas, Han Awal adalah dosen yang telaten mengajari kita hal-hal yang mendasar. Seperti cara memegang pensil, cara menarik garis, cara membuat arsiran beton dan rumput. Meskipun tak semua mahasiswa berbakat, dia selalu bilang ”luar biasa” atau ”simpatik”. Tentunya ini membesarkan semangat kami yang sering kali kecewa terhadap hasil kerja sendiri.

Jika hari ini kami menjadi arsitek yang bisa mendesain bukan cuma rumah, tapi berbagai tipologi bangunan, tentu kami berutang banyak kepada beliau. Mengingat Han Awal hari ini adalah mengingat satu figur yang ”jauh di sana”: seorang dosen yang mencelikkan mata saya sebagai mahasiswa baru terhadap dasar-dasar perencanaan dan perancangan arsitektur, dan teladan yang dengan lakunya memberi suluh pada profesi arsitektur di Indonesia bagaimana bergulat dengan segala kesulitan, godaan, dan tanggung jawabnya, dengan tetap berpegang pada etika.

Tiga puluh tahun telah lewat. Hampir tidak ada kesempatan yang membuat saya bisa atau harus berinteraksi intens dengan Pak Han Awal. Tapi pada tiap kali pertemuan dan persinggungan, entah itu dalam diskusi atau seminar entah sekadar berpapasan, saya selalu tersentuh pada kerendahan hati beliau dan integritasnya pada apa pun yang dilakukannya.

Belakangan, di usianya yang sudah lanjut, Pak Han adalah figur yang sangat aktif dalam melakukan dan mengkonsultasikan kegiatan konservasi bangunan-bangunan tua di Indonesia. Dan dia melakukannya seperti tanpa lelah.

Meski saya cukup akrab dengan putranya—saya suka iseng bilang, ”Yor, bokap lo keren banget! Lo kapan?”—rasa hormat saya pada Han Awal selalu berhasil menahan langkah saya untuk berhenti dan cukup mengagumi sosok itu dari jauh. Pada 14 Mei 2016, Han Awal berpulang. Tapi saya yakin beliau tak pernah pergi. Di benak para mahasiswa yang pernah bersinggungan dengannya, ada kenangan, pelajaran, dan kesan yang mendalam pada beliau. Dia tinggal pada kita dengan cara yang partikular.

Saya pikir teman-teman seangkatan saya akan setuju jika kami menjuluki beliau ”mantan (dosen) terindah”. Buat kami, Han Awal akan tetap jadi Guru Kami.

Website : kota-bunga.net

HAN AWAL, GURU KAMI

UNIVERSITAS Indonesia pada 1987 adalah sebuah tempat antah-berantah, jauh di luar Jakarta, yang harus ditempuh dengan menembus kemacetan Pasar Minggu dan kesemrawutan angkutan kota di LA—istilah keren untuk Lenteng Agung. Dan tiba terlambat, bagi seorang dosen, bukanlah dosa besar.

Saya tidak tahu bapak yang rambutnya hampir semua putih itu datang dari mana, tapi beliau meminta maaf dengan tulus. Satu hal yang paling berkesan adalah gerak tubuhnya dan kata yang dipilihnya. Dia berdiri di depan, menyentuhkan tangan ke dada dan mengucapkan ”kami” untuk menggantikan ”saya”. Selanjutnya, Han Awal memang tidak pernah menggunakan ”saya” di depan kelas untuk membahasakan diri. Beliau lebih memilih ”kami”—sebuah kesopanan lama yang menganggap ”aku” dan ”saya” adalah sebuah penonjolan diri.

Karena itu pulalah, dengan bercanda, teman-teman seangkatan saya menyebut putra beliau, Yori Antar Awal, yang kebetulan adalah senior kami, dengan ”anak kami”. Mengingat Han Awal adalah menggali memori tentang hal-hal penting yang saya pelajari pada tahun-tahun awal kebutaan saya terhadap arsitektur. Bahwa unsur-unsur pokok pembentuk ruang adalah titik, garis, dan bidang. Titik adalah penentu posisi di dalam ruang, dan garis adalah titik yang diperpanjang.

Bahwa bidang adalah medium 2D dan bisa dikembangkan menjadi 3D ke segala sumbu. Bahwa hunian adalah teritori awal manusia. Karena itu, dalam perencanaan dan perancangannya, arsitek harus memperhatikan prinsip kekokohan dan kenyamanan. Arsitektur, selain sebagai naungan, adalah representasi ekspresi yang terus-menerus dari peradaban manusia, sehingga perkembangannya dari zaman ke zaman adalah repositori sejarah peradaban yang luar biasa.

Han Awal menjabarkan sejarah arsitektur dengan sangat menarik, melalui bahasa utama yang digunakannya: gambar. Menggunakan slide projector sederhana yang setiap kali berganti gambar berbunyi krrrk… creek… krrrk… creek…., kami disihir dengan foto bangunan dari tempat-tempat yang jauh. Dari Katedral Notre-Dame, Notre Dame du Haut, Pantheon, hingga bangunan dari mazhab Bauhaus dan era Modern, seperti Seagram Building dan Villa Savoy.

Han Awal tidak cuma meluaskan spektrum pengetahuan dasar arsitektur kami. Ia juga mengajak kita menggali lebih daTEMPO/MARIFKA WAHYU HIDAYA lam tentang khazanah arsitektur Nusantara. Di ruang kelas setengah gelap itu, ia menunjukkan gambar-gambar berbagai bentuk atap, dan meyakinkan bahwa di iklim tropis ini atap adalah yang utama.

Dinding datang kemudian sebagai upaya untuk menahan tampias, serangga, dan terutama: mendapatkan privasi. Masih dengan slide yang sederhana, ia menunjukkan transformasi para arsitek Belanda dalam upaya mereka mengawinkan ilmu membangun Eropa dengan kondisi tropis yang panas dan lembap, sampai pada akhirnya muncul gaya bangunan seperti Aula Barat dan Timur Institut Teknologi Bandung, Gedung Sate, Pasar Johar, Pasar Gede, juga bangunan-bangunan Art Deco pada zaman itu. Satu hal yang sangat diyakini beliau adalah ”breezing wall”. Han Awal percaya, ini adalah jawaban paling jitu untuk daerah